PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT

PERKEMBANGAN JIWA KEAGAMAAN ORANG DEWASA DAN USIA LANJUT
A. Pendahuluan
Psikologi agama terdiri dari dua paduan kata, yakni psikologi dan agama. Kedua kata ini mempunyai makna yang berbeda. Psikologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gejala jiwa manusia yang normal, dewasa dan beradab. (Jalaluddin, 1997: 77). Sedangkan agama memiliki sangkut paut dengan kehidupan batin manusia. Menurut Harun Nasution, agama berasal dari kata Al Din yang berarti undang-undang atau hukum, religi (latin) atau relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat. Dan kata agama terdiri dari "a"; tidak, "gama"; pergi yang berarti tetap di tempat atau diwarisi turun menurun (Jalaluddin, 2004: 12).
Dari definisi tersebut, psikologi agama meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari berapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku, serta keadaaan hidup pada umumnya, selain itu juga mempelajari pertumbuhan dan perkembangan jiwa agama pada seseorang, serta faktor-faktor yang mempengaruhi keyakinan tersebut (Zakiyah Darajat dikutip oleh Jalaluddin, 2004: 15).
Dengan melihat pengertian psikologi dan agama dapatlah diambil pengertian bahwa psikologi agama adalah cabang dari psikologi yang meneliti dan menelaah kehidupan beragama pada seseorang dan mempelajari seberapa besar pengaruh keyakinan agama itu dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari serta keadaan hidup pada umumnya. Untuk itu penulis akan mencoba memaparkan tentang, perkembangan jiwa keagamaan orang dewasa serta faktor-faktor yang. mempengaruhi perkembangan keagamaan tersebut.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaiman perkembangan beragama pada orang dewasa?
2. Apa hambatan-hambatan dalam perkembangan serta kematangan beragama?

C. Pembahasan
1. Perkembangan Beragama Pada Orang Dewasa
Sebagai akhir dari masa remaja adalah masa adolesen, walaupun ada juga yang mermsukkan masa adolesen ini kepada masa dewasa namun demikian dapat disebut bahwa masa adolesen adalah menginjak dewasa yang mereka mempunyai sikap pada umumnya:
a. Dapat menentukan pribadinya.
b. Dapat rnenggariskan jalan hidupnya.
c. Bertanggung jawab.
d. Menghimpun norma-norma sendiri.
Elizabeth B. Hurlock membagi masa dewasa menjadi tiga bagian, yaitu:
a. Masa dewasa awal (masa dewasa dini/young adult).
Masa dewasa awal adalah masa pencaharian kemantapan dan masa, reproduktif yaitu suatu masa yang penuh dengan masalah dan ketegangan, emosional, priode isolasi sosial, priode komitmen dan masa ketergantungan, perubahan nilai-nilai, kreativitas dan penyesuaian diri pada pola hidup yang baru. Kisaran umurnya antara 21 tahun sampai 40 tahun.

b. Masa dewasa madya (middle adulthood).
Masa dewasa madya ini berlangsung dari umur empat puluh sampai enam puluh tahun. Ciri-ciri yang menyangkut pribadi dan sosial antara lain; Masa dewasa madya merupakan masa transisi, dimana pria dan wanita meninggalkan ciri-ciri jasmani dan prilaku masa dewasanya dan memasuki suatu priode dalam kehidupan dengan ciri-ciri jasmani dan prilaku yang baru. Perhatian terhadap agama lebih besar dibandingkan dengan masa sebelumnya, dan kadang-kadang minat dan perhatiannya terhadap agama ini dilandasi kebutuhan pribadi dan sosial.

c. Masa usia lanjut (masa tua/older adult).
Usia lanjut adalah periode penutup dalam rentang hidup seseorang. Masa ini dimulai dari umur enam puluh tahun sampai mati, yang ditandai dengan adanya perubahan yang bersifat fisik dan psikologis yang semakin menurun. Adapun ciri-ciri yang berkaitan dengan penyesuaian pribadi dan sosialnya adalah sebagai berikut; perubahan yang menyangkut kenumpuan niotorik, peruban kekuatan fisik, perubahan dalam fungsi psikologis, perubahan dalam sistem syaraf, perubahan penampilan.
Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki perspektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Selain itu tinghkah laku itu umumnya juga dilandasi oleh pendalaman pengertian dan keluasan pemahaman tentang ajaran agama yang dianutnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan.
Menurut Jalaluddin, gambaran dan cerminan tingkah laku keagamaan orang dewasa dapat pula dilihat dari sikap keagamaanya yang memiliki ciri-ciri antara lain:
a. Menerima kebenaran, agama berdasarkan pertimbangan pemikiran yang matang, bukan secara ikut-ikutan.
b. Bersifat cenderung realis, sehingga norma-norma agama lebih banyak diaplikasikan dalam sikap dan tingkah laku.
c. Bersikap positif thingking terhadap ajaran dan norma-norma agama dan berusaha mempelajari dan pehaman agama.
d. Tingkat ketaatan agama, berdasarkan atas pertimbangan dan tanggungjawab diri sehingga sikap keberagamaan merupakan realisasi diri dari sikap hidup.
e. Bersikap yang lebih terbuka dan wawasan yang lebih luas.
f. Bersikap lebih kritis terhadap materi ajaran agama sehingga kemantapan beragama selain didasarkan atas pertimbangan pikiran juga didasarkan atas pertimbangan hati nurani.
g. Sikap keberagamaan cenderung mengarah kepada tipe-tipe kepribadian masing-masing, sehingga terikat adanya pengaruh kepribadian dalam menerima, memahami, serta melaksanakan ajaran agama yang diyakininya.
h. Terlihat hubungan antara sikap keberagamaan dengan kehidupan sosial, sehingga perhatian terhadap kepentigan organisasi sosial keagamaan sudah berkembang.
Sedangkan scara garis besar ciri-ciri keberagamaan orang yang sudah usia lanjut di antaranya:
a. Kehidupan keagamaan pada usia lanjut sudah mencapai tingkat kemantapan.
b. Meningkatnya kecenderungan untuk menerima pendapat keagamaan.
c. Mulai muncul pengakuan terhadap realitas tentang kehidupan akherat secara lebih sungguh-sungguh.
d. Sikap keagamaan cenderung mengarah kepada kebutuhan saling cinta antara sesama manusia serta sifat-sifat luhur.
e. Timbul rasa takut kepada kematian yang meningkat sejalan dengan pertambahan usia lanjutnya.
f. Perasaan takut pada kematian ini berdampak pada peningkatan pembentukan sikap keagamaan dan kepercayaan terhadap adanya kehidupan abadi (akherat).

2. Hambatan-Hambatan dalam Perkembangan serta Kematangan Beragama
Kematangan bergama akan terkait erat dengan kematangan usia manusia. Perkembangan kegamaan seseorang untuk sampai pada tingkat kematangan beragama dibutuhkan proses yang panjang. Proses tersebut, boleh jadi karena melalui proses konversi agama pada diri seseorang atau karena berbarengan dengan kematangan pribadinya. Sebagai hasil dari konversi, seringkali seseorang menemukan dirinya mempunyai pemahaman yang baik akan kemantapan keagamaannya hingga ia dewasa atau matang dalam beragama¬. Demikian halnya dengan perkembangan kepribadian seseorang, apabila telah sampai pada suatu tingkat kedewasaan, maka akan ditandai dengan kematangan jasmani dan rohani. Pada saat inilah seseorang sudah memiliki keyakinan dan pendirian yang tetap dan kuat terhadap pandangan hidup atau agama yang harus dipeganginya.
Kematangan atau kecenderungan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena manganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya. Dalam rangka menuju kematangan beragama terdapat beberapa hambatan. Dan pada dasarnya terdapat dua faktor yang menyebabkan adanya hambatan tersebut, di antaranya adalah:
a. Faktor diri sendiri
Faktor dari dalam diri sendiri terbagi menjadi dua yang menonjol diantaranya kepasitas diri dan pengalaman.
1) Kapasitas diri ini berupa kemampuan ilmiah (rasio) dalam menerima ajaran-ajaran itu terlihat perbedaan antara seseorang yang berkemampuan dan kurang berkemampuan. Sejarah menunjukkan bahwa makin banyak pengetahuan diperoleh, makin sedikit kepercayaan agama mengendalikan kehidupan.
2) Sedangkan faktor pengalaman, semakin luas pengalaman seseorang dalam bidang keagamaan, maka akan semakin mantap dan stabil dalam mengerjakan aktifitas keagamaan. Namun bagi mereka yang mempunyai pengalaman sedikit dan sempit, ia akan mengalami berbagai macam kesulitan dan akan selalu dihadapkan pada hambatan-hambatan untuk dapat mengerjakan ajaran agama secara mantap dan stabil.
b. Faktor luar (lingkungan)
Faktor luar yaitu beberapa kondisi dan situasi lingkungan yang tidak banyak memberikan kesempatan untuk berkembang, malah justru menganggap tidak perlu adanya perkembangan dan apa yang telah ada. Faktor tersebut antara lain tradisi agama atau pendidikan yang diterima. Hal ini sebagai landasan membuat kebiasaan baru yang lebih stabil dan bisa dipertanggungjawabkan serta memiliki kedewasaan dalam beragama. Berkaitan dengan sikap keberagamaan, William Starbuck, sebagaimana dipaparkan kembali oleh William James, mangemukakan dua buah faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan seseorang, yaitu:
a) Faktor interen, tediri dari;
• Temperament; tingkah laku yang didasarkan pada temperamen tertentu memegang peranan penting dalam sikap beragama seseorang.
• Gangguan jiwa; orang yang menderita gangguan jiwa menunjukkan kelainan dalam sikap dan tingkah lakunya.
• Konflik dan keraguan; konflik dan keraguan ini dapat mempengaruhi sikap seseorang terhadap agama, seperti taat, fanatik, agnotis, maupun ateis.
• Jauh dari tuhan; orang yang hidupyna jauh dari Tuhan akan merasa dirinya lemah dan kehilangan pegangan hidup, terutama saat manghadapi musibah.
Adapun ciri-ciri mereka yang mengalami kelainan kejiwaan dalam beragama sebagai berikut:
• Pesimis
Dalam mengamalkan ajaran agama mereka cenderung untuk berpasrah diri kepada nasib yang telah mereka terima. Mereka menjadi tahan menderita dari segala penderitaan menyebabkan peningkatan ketaatannya. Penderitaan dan kenikmatan yang mereka terima, mereka percayai sepenuhnya sebagai azab dan rahmat dari Tuhan. Mereka cenderung lebih mawas diri dan terlibat dalam masalah pribadi masing-masing dalam mengamalkan ajaran agama.
• Introvert
Sifat pesimis membawa mereka untuk bersikap obyektif Segala mara bahaya dan penderitaan selalu dihubungkannya dengan kesalahan diri dan dosa yang telah diperbuatnya. Dengan demikian mereka berusaha untuk menebusnya dengan mendekatkan diri kepada Tuhan melalui pensucian diri. Cara bermeditasi kadang-kadang merupakan pilihan dalam memberi kenikmatan yang dapat dirasakan oleh jiwanya.
• Menyenangi paham yang ortodoks
Sebagai pengaruh sifat pesimis dan ontrovert kehidupan jiwanya menjadi pasif. Hal ini lebih mendorong mereka untuk menyenangi paham keagamaan yang lebih konservatif dan ortodoks.
• Mengalami proses keagamaan secara nograduasi.
Proses timbulnya keyakinan terhadap ajaran agama umumnya tidak berlangsung melalui prosedur yang biasa, yaitu dari tidak tahun dan kemudian mengamalkannya dalam bentuk amalan rutin yang wajar. Tindak keagamaan yang mereka lakukan didapat dari proses pendekatan, mungkin karena rasa berdosa, ataupun perubahan keyakinan maupun petunjuk Tuhan. Jadi timbulnya keyakinan beragama pada mereka ini berlangsung melalui proses pendadakan, perubahan yang tiba-tiba.
b) Faktor ekstern yang mempengaruhi sikap keagamaan secara mendadak adalah:
• Musibah; sering kali musibah yang sangat serius dapat mengguncang seseorang,dan kegoncangan tersebut seringkali memunculkan kesadaran, khususnya kesadaran keberagamaan.
• Kejahatan; mereka yang hidup dalam lembah hitam umumnya mengalami guncangan batin dan rasa berdosa. Seeing pula perasaan yang fitrah menghantui dirinya, yang kemudian membuka kesadarannya untuk bertobat, yang pada akhirnya akan menjadi penganut agama yang taat dan fanatik.

Adapun ciri-ciri orang yang sehat jiwanya dalam menjalankan agama antara, lain:
• Optimisme dan gembira
• Ekstrovert dan tidak mendalam
• Menyenangi ajaran ketauhidan yang liberal. Pengaruh kepribadian yang ekstrovert, maka mereka cenderung:
o Menyenangi teologi yang luas dan tidak kaku
o Menunjukkan tingh laku keagamaan yang lebih bebas.
o Menekankan cinta kasih dari pada kemurkaan dan dosa.
o Memplopori pembedaan terhadap kepentingan agama secara sosial.
o Tidak menyenangi implikasi penebusan dosa dan kehidupan kebiaraan.
o Bersifat liberal dalam menafirkan pengertian ajaran agama.
o Selalu berpandangan positif.
o Berkembang secara graduasi.

D. Kesimpulan
Manusia memiliki bermacam ragam kebutuhan batin maupun lahir akan tetapi, kebutuhan manusia terbatas karena kebutuhan tersebut juga dibutuhkan oleh manusia lainnya. Karena manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut agama karena manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada suatu perasaan yang mengakui adanya Yang Maha Kuasa tempat mereka berlindung, dan memohon pertolongan. Sehingga keseimbagan manusia dilandasi kepercayan beragama. Sikap orang dewasa dalam beragama sangat menonjol jika kebutuaan akan beragama tertanam dalam dirinya.
Kesetabilan hidup seseorang dalam beragama dan tingkah laku keagamaan seseorang, bukanlah kesetabilan yang statis. Adanya perubahan itu terjadi karena proses pertimbangan pikiran, pengetahuan yang dimiliki dan mungkin karena kondisi yang ada. Tingkah laku keagamaan orang dewasa memiliki persepektif yang luas didasarkan atas nilai-nilai yang dipilihnya. Beragama bagi orang dewasa sudah merupakan bagian dari komitmen hidupnya dan bukan sekedar ikut-ikutan. Namun, masih banyak lagi yang menjadi kendala kesempurnaan orang dewasa dalam beragama. Kedewasaan seseorang dalam beragama biasanya ditunjukkan dengan kesadaran dan keyakinan yang teguh karena menganggap benar akan agama yang dianutnya dan ia memerlukan agama dalam hidupnya.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Sidrotul Muntaha, http://www.perkembangan-agama-pada-masa-orang-dewasa.co.id
Abdul Katar Al-Ghazali, perkernbangan-Jiwa-beragarna-pada-orang.htm1, www.google.
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet. Kedua, 1997.
Sururin, I1mu Jiwa Agama, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar